Kabupaten Ogan Komering Ilir
Kabupaten
Ogan Komering Ilir atau sering disingkat OKI
yang beribukotakan Kayu Agung, adalah salah satu Kabupaten di Sumatera
Selatan yang memiliki luas 19.023,47 Km² dan berpenduduk sekitar
700.000 jiwa. Pada Tahun 2005 Kabupaten ini memiliki 18 Kecamatan, yang terdiri
atas 299 Desa/Kelurahan.
Iklim
di Kayu Agung, Ibu Kota Kabupaten Ogan tergolong Tropik Basah dengan curah
hujan rerata Tahunan > 2.500 mm/tahun dan jumlah hari hujan dan hari
hujan rata-rata > 116 hari/tahun. Musim Kemarau umumnya berkisar antara
bulan Mei sampai Oktober setiap tahunnya, sedangkan musim penghujan berkisar
antara bulan November sampai Bulan April.
Penyimpangan
musim biasanya terjadi dalam lima tahun, berupa musim penghujan, dengan
rata-rata curah hujan lebih kurang 1.000 mm/tahun dengan rata-rata hari
hujan 60 hari/tahun. Di wilayah OKI juga terdapat beberapa pelabuhan yakni,
Pelabuhan Sungai Lumpur yang dimana jumlah dermaganya adalah 2 Buah.
Pemerintahan
|
|
- Bupati
|
|
- DAU
|
Rp. 620.189.348.653,-
|
Luas
|
19.023,47 km2
|
Populasi
|
|
- Total
|
752.906 jiwa
|
- Kepadatan
|
39,58 jiwa/km2
|
Demografi
|
|
0712
|
|
Pembagian administratif
|
|
20
|
|
299
|
|
Simbol khas daerah
|
|
- Situs web
|
|
Demografi
Kecamatan
|
Luas
Wilayah (km²)
|
Jumlah
Penduduk (jiwa)
|
Kepadatan
Penduduk (jiwa/km²)
|
525,61
|
70.642
|
134
|
|
503,80
|
59.786
|
119
|
|
2.876,17
|
46.567
|
16
|
|
55,86
|
38.870
|
696
|
|
128,85
|
34.334
|
266
|
|
1.513,14
|
51.456
|
34
|
|
4.853,40
|
40.683
|
8
|
|
2.226,41
|
42.778
|
19
|
|
222,97
|
32.296
|
145
|
|
168,29
|
21.268
|
126
|
|
1.059,68
|
40.114
|
38
|
|
464,79
|
20.110
|
43
|
|
145,45
|
62.694
|
431
|
|
177,42
|
27.758
|
156
|
|
1.139,75
|
26.033
|
23
|
|
149,08
|
41.709
|
280
|
|
218,98
|
38.098
|
174
|
|
2.593,82
|
32.180
|
12
|
Geografis Daerah
- Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang di sebelah Utara;
- Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dan Provinsi Lampung di sebelah Selatan;
- Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten OKU Timur di sebelah Barat, dan;
- Selat Bangka dan Laut Jawa di sebelah Timur.
Sekitar
75 persen dari luas wilayah Kabupaten OKI merupakan bentangan rawa dan 25
persennya merupakan daratan. Daerah ini dialiri oleh banyak sungai dan memiliki
wilayah pantai dan laut. Wilayah pesisir Pantai Timur OKI meliputi Kecamatan
Air Sugihan, Tulung Selapan, Cengal dan Kecamatan Sungai Menang. Secara
fisiografi datarannya dibedak
Demografi
Dari
segi demografi penduduk OKI Pada hasil sensus penduduk tahun 2010 adalah
727.376 Jiwa yang terdiri atas 373.006 Jiwa Laki-laki, dan 354.370 Jiwa
Perempuan, memiliki pertumbuhan penduduk setiap tahunnya sekitar 2,01 persen
per tahun, dan tingkat kepadatan sekitar 69 jiwa per km².
Kondisi Hidrologi
Berdasarkan
daerah Aliran Sungai (DAS), wilayah OKI dapat dibedakan menjadi tiga sistem
yaitu DAS Musi yang meliputi sub DAS Komering dan arah aliran ke Sungai Musi,
DAS Bulurarinding yang meliputi Sub DAS Sugihan dengan sungai utama Sugihan,
Batang dengan sungai utama Sungai Batang, Riding dengan sungai utama Sungai
Batang, Lebong Hitam dengan sungai utama Sungai Lebong Hitam, Lumpur dengan
sungai utama Sungai Lumpur, Jeruju dengan sungai utama Sungai Jeruju. Arah
aliran ke Selat Bangka dan Laut Jawa, dan DAS Mesuji yang meliputi Sub DAS
Mesuji Hulu, Padang Mas Hitam dan Mesuji dengan sungai utama Sungai Mesuji. Sub
DAS Komering mencakup wilayah Kecamatan Mesuji Makmur bagian barat, Lempuing,
Tanjung Lubuk, Lempuing Jaya, Teluk Gelam, Kota Kayuagung, Pampangan bagian
utara, SP Padang, dan Kecamatan Jejawi. Sungai –sungai yang membentuk Sub DAS
Sugihan dan Sub DAS Batang mengaliri wilayah Kecamatan Air Sugihan; sedangkan
Sub DAS Riding dan Sub DAS Lebong Hitam meliputi wilayah Kecamatam Tulung
Selapan dan Sub DAS Jeruju berkembang di wilayah Kecamatan Cengal dan sebagian
di Kecamatan Sungai Menang. Disamping sistem sungai, di wilayah OKI banyak
terdapat danau, di antara yang cukup besar adalah Danau Deling di Kecamatan
Pangkalan Lampam, Danau Air Nilang di Kecamatan Pedamaran, Danau Teluk Gelam
yang saat ini sudah dikembangkan menjadi salah obyek tujuan wisata di Kabupaten
OKI dan Teloko di Kota kayuagung. Disamping sungai dan danau, dalam sistem
hidrologi di Kabupaten OKI terdapat lebak, yang kuantitas airnya sangat
tergantung dengan musim. Pada masa musim kemarau airnya kering, dan saat musim
hujan terendam air. Di dalam sistem lebak ini terdapat bagian yang dalam dan
tidak pernah kering airnya, yang di masyarakat Kabupaten OKI dikenal dengan
istilah Lebak Lebung. Biasanya kawasan lebak lebung ini memiliki sumberdaya
ikan yang besar dan potensial untuk dikembangkan untuk kawasan budidaya
perikanan air tawar.
Pendidikan
Tanah
Jenis
tanah di wilayah OKI meliputi beberapa jenis mulai dari glei humus dan
organosol, latosol, litosol, podsolik, alluvial hidromorf, sampai hidromorf.
Sedangkan jenis tanah yang paling dominan agihannya adalah glei humus dan
organosol yang berasosiasi dengan air. Litosol dan podsolik. Tanah glei humus
dan organosol (+ air) tersebar luas terutama di wilayah Kecamatan Air Sugihan
dan Tulung Selapan. Jenis tanah ini merupakan endapan rawa. Untuk jenis latosol
dijumpai di kecamatan Pampangan dan Pedamaran. Di daerah ini Latosol berwarna
coklat kemerahan. Seri tanah Podsolik dan hidromorf dapat di jumpai agihannya
di Kecamatan Mesuji, Mesuji Makmur dan Mesuji Raya. Secara umum jenis tanah
memperlihatkan warna coklat.
Jenis
tanah yang lain dan tergolong cukup luas agihannya adalah Podsolik berwarna
kuning yang dijumpai di kecamatan Sungai Menang. Podsolik berwarna kuning dan
hidromorf terdapat di wilayah Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya, Sedangkan
Podsolik berwarna coklat kekuningan di jumpai di kecamatan Cengal. Selain
Podsolik di kecamatan Cengal terdapat jenis tanah Latosol berwarna Coklat dan
Litosol. Untuk seri tanah Latosol yang berwarna merah kekuningan agihannya
tidak begitu luas dan terutama tersebar di Kecamatan Pangkalan Lampam. Jenis
tanah yang agihannya tidak terlalu luas namun lebih beragam pada umumnya
dijumpai di kawasan barat Kabupaten OKI. Di Kecamatan SP Padang dan Jejawi
dapat ditemukan jenis tanah litosol dan latosol coklat, serta glei humus dan
organosol. Kecamatan Teluk Gelam dan Kayuagung di dominasi oleh glei humus dan
organosol, sedangkan Kecamatan Tanjung Lubuk memiliki jenis tanah Alluvial
Hidromorf dan Hidromorf Kelabu.
Layanan Perbankan
Di
Kayu Agung, ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir terdapat beberapa jenis Bank,
yakni :
- Bank Sumsel Babel
- Bank Negara Indonesia (BNI)
- Bank Mega
- Bank Mandiri Syariah
- Bank Perkreditan Rakyat Sumsel (BPR Sumsel)
- Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Hotel
Sebagai
salah satu wilayah dengan destinasi wisata andalan, Kabupaten OKI memilik
fasilitas penginapan, antara lain di Kecamatan Lempuing (Hotel Romli dan Ratu
Pangkat; Penginapan Lestari dan Musi); Teluk Gelam (Hotel Kembar, Parai Lake,
Resort, dan SPA Teluk Gelam yang berbintang 3); Kayuagung (Hotel Dinesti
berbintang 3, Cipta, Gatra Pratama, Pajri, Gatra Pratama II, Ciknah, Wisata dan
Risky); Tulung Selapan (Hotel Waras; Penginapan Deny Cipta, Mitra Usaha,
Losmen
Handayani Lestari); Pampangan (Penginapan Fikri). Demikian juga dengan restoran
yang banyak bertebaran dengan berbagai jenis menu makanan baik daerah,
nasional, maupun internasional yang tersebar di 18 Kecamatan.
Topografi Daerah
Topografi
Kabupaten OKI secara umum merupakan datatran rendah dengan ketinggian rata-rata
10 mdpal. Lokasi tertinggi berada di daerah Bukit Gajah kecamatan Tulung
Selapan, dengan titik ketinggian sekitar 14 mdpal, sedangkan daerah terendah
terletak di kawasan timur yang termasyuk di wilayah Kecamatan Tulung Selapan
juga, dengan rata-rata ketinggian sekitar 6 mdpal.Berdasarkan tingkat
kemiringan, wilayah Kabupaten OKI dapat dibedakan menjadi daerah dengan
topografi datar sampai landai dengan tingkat kemiringan antara 0 – 2%, dan
daerah dengan topografi bergelombang dengan tingkat kemiringan berkisar antara
2 – 15 %. Sebagian besar daerah OKI merupakan daerah datar sampai landai,
sedangkan daerah yang bergelombang hanya dijumpai di beberapa lokasi di wilayah
Kecamatan Mesuji. Lempuing dan Kecamatan Lempuing Jaya.
Fisiografi
Kabupaten
OKI secara fisiografis terletak pada bentang alam dataran rendah yang menempati
sepanjang Sumatera bagian timur. Wilayah ini sebagian besar memperlihatkan
tipologi ekologi rawa, meskipun secara lokal dapat ditemukan dataran kering.
Dengan demikian wilayah OKI dapat dibedakan menjadi dataran lahan basah dengan
topografi rendah (lowland) dan dataran lahan kering yang memperlihatkan
topografi lebih tinggi (Upland). Daerah lahan basah hampir meliputi 75 %
wilayah OKI dan dapat dijumpai di kawasan sebelah timur seperti Kecamatan Air
Sugihan, Tulung Selapan, Cengal, dan Kecamatan Sungai Menang. Sedangkan lahan
kering dapat terdapat di wilayah dengan topografi bergelombang, yaitu di
Kecamatan Mesuji Makmur, Lempuing dan Kecamatan Lempuing Jaya.
Sejarah
Era
penjajahan Belanda wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) termasuk ke dalam
wilayah Keresidenan Sumatera Selatan dan Sub Keresidenan (Afdeeling) Palembang
dan Tanah Datar dengan ibukota Palembang. Afdeeling ini dibagi dalam beberapa
onder afdeeling, dan wilayah Kabupaten OKI meliputi wilayah onder afdeeling
Komering Ilir dan onder afdeeling Ogan Ilir. Di era kemerdekaan wilayah
Kabupaten OKI termasuk dalam Keresidenan Palembang yang meliputi 26 marga.
Kemudian di era ORBA wilayah Kabupaten OKI menjadi bagian dari Provinsi
Sumatera Selatan. Setelah adanya pembubaran marga, wilayah Kabupaten OKI dibagi
menjadi 12 Kecamatan defenitif dan 6 kecamatan perwakilan.
Sebelum
tahun 2000 Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memiliki 14 kecamatan defenitif
dan 4 kecamatan perwakilan. Keempat kecamatan perwakilan tersebut adalah
Kecamatan Rantau Alai dengan Kecamatan Induk Tanjung Raja, Kecamatan Jejawi
dengan Kecamatan Induk Sirah Pulau Padang, Kecamatan Pematang Panggang dengan
Kecamatan Induk Mesuji dan Kecamatan Cengal dengan Kecamatan Induk Tulung Selapan.
Namun semenjak tahun 2001, empat kecamatan perwakilan tersebut disahkan menjadi
kecamatan defenitif sehingga jumlah kecamatan di Kabupaten OKI menjadi 18
kecamatan dan meliputi 434 desa dan 13 kelurahan.
Dalam
perjalanannya, berdasarkan KEPPRES Nomor 37 Tahun 2003 tentang Pembentukan
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten
Ogan Ilir di Provinsi Sumatera Selatan, Kabupaten OKI dimekarkan menjadi dua
kabupaten yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Ogan Ilir yang
beribukota di Inderalaya. Wilayah Kabupaten Ogan Ilir meliputi Kecamatan
Inderalaya, Tanjung Raja, Tanjung Batu, Muara Kuang, Rantau Alai dan Kecamatan
Pemulutan. Setelah pemekaran ini, wilayah Kabupaten OKI terdiri dari 12
kecamatan, yang meliputi 272 desa dan 11 kelurahan.
Selanjutnya,
Berdasarkan Perda Nomor 5 Tahun 2005, wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir
kembali dimekarkan sehingga terbentuk 6 kecamatan baru, yaitu Kecamatan
Pangkalan Lampam, Mesuji Makmur, Mesuji Raya, Lempuing Jaya, Teluk Gelam dan
Kecamatan Pedamaran Timur. Setelah pemekaran ini Kabupaten Ogan Komering Ilir
secara administratif meliputi 18 Kecamatan, 11 kelurahan dan 290 desa
Sosial Budaya Kabupaten OKI
Kabupaten
Ogan Komering Ilir terbagi atas beberapa suku bangsa baik suku asli Ogan
Komering Ilir maupun pendatang dari Jawa, Bali dan Sunda. Adapun suku asli
Penduduk Kabupaten Ogan Komering Ilir terdiri atas: (1) Suku Ogan :
meliputi penduduk asli tersebar di Desa Sugih Waras, Buluh Cawang, Teleko,
sebagian Sirah Pulau Padang, Pampangan, Keman, Pangkalan Lampam, dan Tulung
Selapan, berbahasa Ogan. (2) Suku Komering: meliputi penduduk asli di sepanjang
sungai Komering mulai dari Kecamatan Tanjung Lubuk sampai Kota Kayuagung,
sehari-hari berbahasa Komering. (3) Suku Kayuagung: meliputi penduduk asli di
Kecamatan Kota Kayuagung kecuali Celikah dan Tanjung Rancing, sebagian penduduk
di Kecamatan Lempuing dan desa-desa perairan sungai Mesuji di Kecamatan Mesuji
dan Kecamatan Sungai Menang, sehari-hari berbahasa asliKayuagung. (4) Suku
Penesak/Danau: meliputi penduduk asli Kecamatan Pedamaran tersebar di desa-desa
dalam Kecamatan Pedamaran tidak termasuk penduduk Sukaraja, berbahasa Penesak.
(5) Suku Pegagan : meliputi penduduk asli di Kecamatan Jejawi, Sirah Pulau
Padang, Tanjung Rancing dan Celikah Kecamatan Kota Kayuagung, berbahasa
Pegagan. (6) Suku Jawa, Sunda dan bali : meliputi penduduk di Kecamatan
Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, Mesuji Raya, Mesuji Makmur, Sungai Menang, Air
Sugihan, Pedamaran Timur dan sebagian penduduk di Kecamatan Teluk Gelam, Bahasa
yang mereka gunakan adalah bahasa sunda atau jawa dan untuk pergaulan dengan
penduduk setempat menggunakan Bahasa Indonesia.
Geografi Wilayah Kabupaten OKI
Kabupaten
Ogan Komering Ilir merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan
dengan luas wilayah 19.023,47 Km² secara geografis terletak di antara 20 30'
sampai 4015' LS dan di antara 1040 20' sampai 1060 00' BT.
Wilayah
Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki batas wilayah administrasi dengan
rincian : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten
Banyuasin dan Kota Palembang. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten OKU
Timur dan Provinsi Lampung. Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bangka dan
Laut Jawa. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten
OKU Timur. Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan luas wilayah 21.689,54 Km² dan
kepadatan 1.568 jiwa/Km² memiliki 18 kecamatan dan 321 desa/kelurahan terdiri
dari : 308 desa dan 13 kelurahan. Wilayah yang paling luas adalah Kecamatan
Tulung Selapan dengan luas 4.853,40 km², dan wilayah yang paling sempit
adalah Kecamatan Mesuji dengan luas wilayah 55,86 Km² . Secara rinci luas
wilayah dan jumlah desa/kelurahan masing-masing kecamatan dalam Kabupaten Ogan
Komering Ilir tampak pada Tabel 1. Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan
daerah yang mempunyai iklim Tropis Basah (Type B) dengan musim kemarau berkisar
antara bulan Mei sampai dengan bulan Oktober, sedangkan musim hujan berkisar
antara bulan November sampai dengan April. Curah hujan 5 tahun terahir
rata-rata per bulan terendah 118 mm pada bulan Agustus dan September 2011,
atau rata-rata per tahunadalah 2.906 mm dan rata-rata hari hujan 116 hari
per tahun. Suhu udara harian berkisar antara 210 C terendah pada malam hari
sampai 360 C tertinggi malam siang hari. Kelembaban udara harian berkisar
antara 69 % sampai 98 %. Secara fisiografis Kabupaten OKI terletak
pada bentang alam dataran rendah yang menempati sepanjang Sumatera bagian
timur. Wilayah ini sebagian besar memperlihatkan tipologi ekologi rawa,
meskipun secara lokal dapat ditemukan dataran kering. Dengan demikian wilayah
OKI dapat dibedakan menjadi dataran lahan basah dengan topografi rendah dan
dataran lahan kering yang memperlihatkan topografi lebih tinggi. Daerah lahan basah
hampir meliputi 75 % wilayah OKI dan dapat dijumpai di kawasan sebelah
timur seperti Kecamatan Air Sugihan, Tulung Selapan, Cengal, dan Kecamatan
Sungai Menang. Sedangkan lahan kering terdapat di wilayah dengan topografi
bergelombang, yaitu di Kecamatan Mesuji Makmur, Lempuing dan Kecamatan Lempuing
Jaya. Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki tofografi lembah, datar sampai
bergelombang dengan ketinggian 8 meter sampai 45 meter diatas permukaan air
laut. Lokasi tertinggi berada kecamatan Mesuji Makmur, dengan titik ketinggian
sekitar 45 meter dpal, sedangkan daerah terendah terletak di kawasan timur yang
termasuk di wilayah Kecamatan Air Sugihan, dengan rata-rata ketinggian sekitar
8 meter dpal. Berdasarkan tingkat kemiringan, wilayah Kabupaten OKI dapat dibedakan
menjadi daerah dengan topografi datar sampai landai dengan tingkat kemiringan
antara 0 – 2 %, dan daerah dengan topografi bergelombang dengan tingkat
kemiringan berkisar antara 2 – 15 %. Sebagian besar daerah OKI merupakan
daerah datar sampai landai, sedangkan daerah yang bergelombang hanya dijumpai
di beberapa lokasi di wilayah Kecamatan Mesuji, Mesuji Makmur dan Kecamatan
Pedamaran Timur. Di Kabupaten Ogan Komering Ilir dialiri oleh beberapa sungai
besar yaitu sungai Komering yang mengalir mulai dari Kecamatan Tanjung Lubuk,
Pedamaran, Kayuagung, Sirah Pulau Padang dan Kecamatan Jejawi serta bermuara di
Sungai Musi di Kota Palembang, Sungai Mesuji mengalir dari Kecamatan Mesuji
sampai Kecamatan Sungai Menang yang merupakan perbatasan Kabupaten OKI dengan
Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung. Sedangkan sungai lainnya antara lain
sungai Lempuing, Air Sugihan, Sungai Jeruju, Sungai Riding, Sungai Lebong
Hitam, Sungai Lumpur, dan Sungai Jeruju. Danau Teluk Gelam merupakan potensi
sumber penampungan air, sarana olahraga air dan objek wisata. Disamping itu
juga terdapat lebak yang luas dan dalam yaitu lebak teleko di Kecamatan Kota
Kayuagung, lebak Danau Rasau di Kecamatan Pedamaran, lebak Deling di Kecamatan
Pangkalan Lampam, dan lebak Air Itam di Kecamatan Pedamaran.
Objek Wisata
Danau Teluk Gelam
Danau
Teluk Gelam menawarkan pesona alam yang menawan. Danau yang terletak di pinggir
jalan lintas timur Sumatera sekitar 92 km di sebelah tenggara kota
Palembang itu airnya cukup tenang. Meski sedikit dipenuhi rumput air, danaunya
bisa digunakan untuk olah raga dayung dan jet ski.
Di
lokasi danau ini, pengunjung bisa berolahraga air, mandi, berenang, memancing,
atau sekadar berkeliling. Angin yang berembus semilir menciptakan
gelombang-gelombang kecil di permukaan air danau yang bening membuat suasana
terasa tenang. Di tengah danau terdapat daratan yang ditumbuhi ribuan pohon
Gelam (Melaleuka leucadendron) dengan daun-daunnya yang mungil berwarna hijau
muda.
Danau
ini terletak di Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera
Selatan (Sumsel).
Danau
Teluk Gelam dapat dicapai melalui jalan lintas timur Sumatera. Dari kota
Palembang melalui jalan raya yang menuju ke arah Lampung dengan menggunakan
kendaraan pribadi atau carteran.
Untuk
masuk ke objek wisata, setiap mobil dikenakan retribusi Rp 4.000,- dan sepeda
motor Rp 2.000,-. Sedangkan untuk setiap pengunjung dihitung per kepala dengan
tarif Rp 2.000,- untuk orang dewasa dan Rp 1.500,- untuk anak-anak.
Bagi
yang ingin hanya sekadar menonton, di tempat ini disediakan tribun untuk
penonton. Selain itu, di tempat ini terdapat hotel dan pemandu wisata. Tidak
jauh dari Danau Teluk Gelam, terdapat 34 rumah panggung kayu bertipe 45 dan 70
yang dibangun dengan metode knock down (bongkar pasang). Rumah-rumah ini
disewakan sehingga bisa untuk menginap atau beristirahat. Suasana rumah masih
alami, sehingga pengunjung yang menginap akan merasakan seperti tinggal di
perkampungan.
Bagi
pengunjung yang ingin menyewa jet-ski tarifnya Rp 300.000,- per jam, sedangkan
speed boat Rp 150.000,- per jam.
Bukit Batu
(Bukit
Batu dan Legenda Si Pahit Lidah) Bukit Batu atau Batu Gajah merupakan situs
budaya yang menjadi destinasi wisata sejarah di Kabupaten OKI. Lokasi wisata di
Desa Bukit Batu Kecamatan Pangkalan Lampam ini menawarkan wisata sejarah yang
memukau yaitu tentang sosok manusia sakti yang melegenda bagi masyarakat
Sumatera Selatan bernama “Serunting Sakti atau Si Pahit lidah”. Menurut
kepercayaan masyarakat Sumatera Selatan, Si Pahit Lidah selalu meninggalkan
kenangan yang kemudian menjadi sebuah situs atau pembuktian bahwa dia pernah
ada di wilayah tersebut.
Sampai
saat ini situs peninggalan Si Pahit Lidah ini tetap ada dan asri di Desa Bukit
Batu Kecamatan Pangkalan Lampam seperti batu lesung, batu pengantin dan batu
gajah. Situs ini kerap banyak sekali dikunjungi oleh wisatawan dalam dan luar
negeri. Masyarakat setempat menjaga dan memelihara situs-situs ini dan tidak
berani mengganggunya karena dipercaya akan membawa malapetaka
Rumah Seratus Tiang
Pulau Maspari
Pulau
Maspari adalah sebuah pulau indah yang terletak di Desa Sungai Lumpur Kecamatan
Tulung Selapan. Perjalanan menuju Pulau Maspari apabila ditempuh dari Kota
Palembang dapat melalui 2 cara. Alternatif pertama yakni menggunakan jalur air
yg langsung dari perairan Sungai Musi, tepatnya melalui BKB (Benteng Kuto
Besak) atau dermaga dekat Jembatan Musi naik kapal speed dengan motor tempel
menelusuri Sungai Musi menuju Upang dan jalur Laut Selat Bangka ke arah Timur
Sumatera Selatan langsung menuju Pulau Maspari dalam waktu lebih kurang 6 jam.
Alternatif berikutnya yakni melalui jalur darat menyusuri Sungai Lumpur, dari
Kota Palembang menuju Kecamatan Tulung Selapan-OKI lebih kurang 2 jam, kemudian
disambung dari Kecamatan Tulung Selapan-OKI dengan kapal speed motor tempel
langsung menuju Pulau Maspari dengan jarak tempuh lebih kurang 4 jam perjalanan
air.
Pulau
ini menawarkan hamparan pasir putih yang memukau pemandangan yang sangat indah,
deburan ombak yang bersahabat, serta kejernihan airnya yang menawan yang
merupakan lokasi yang sangat cocok untuk melakukan diving, snorkeling serta
berbagai olahraga lainnya. Bagian tereksostis pulau ini, yakni pantai pasir
meliuk memanjang yang menyerupaekor ikan pari, bahkan menurut masyarakat
setempat bagian ekor ini pada musim tertentu akan berubah-ubah liukannya
mengikuti terpaan angin, ombak dan arus yang membawa pasir ke arah tertentu dan
membentuk sebuah dataran menyerupai ekor ikan pari.
Di
Pulau Maspari hidup flora dan fauna laut yang eksotis, di beberapa lokasi
terdapat tempat penyu meletakkan telurnya, terdapat ratusan telur dalam lubang
yang siap menetas yang dikenal dengan nama tukik dari sejenis penyu sisik yang
keberadaannya sangat dilindungi karena sudah cukup langka di muka bumi ini.
Konon dari 1.000 butir telur diperkirakan hanya satu ekor saja yang mampu
bertahan hingga dewasa, selebihnya banyak mati sebelum mencapai dewasa. Belum
lagi karena campur tangan manusia tidak bertanggungjawab yang memburu
telur-telur penyu ini bahkan sebelum telur ini sempat menetas. Untuk satu ekor
induk penyu sekali bertelur lebih kurang sebanyak 250 butir, artinya kalau
untuk 1.000 butir baru bisa didapat dari setidaknya 4 ekor induk.
Di
atas bukit Pulau Maspari berdiri kokoh rambu suar yang berguna untuk memandu
kapal-kapal laut yang lewat melintasi Selat Bangka. Dari arah daratan itulah
muncul bunyi yang akan semakin bergema di saat musim kemarau tiba. suara ini
berasal dari dataran cukup luas yang mengeluarkan suara “dung, dung, dung” dan
terus bergema apalagi jika diinjak sambil menghentakkan kaki lebih keras, maka
suaranyapun jadi terdengar lebih keras. Kondisi geografis yang berada sangat
jauh dari pemukiman ini membuat Pulau Maspari sangat susah dijangkau oleh sebab
itu, Pemerintah Kabupaten OKI terus berupaya mengoptimalkan potensi Surga yang
belum terungkap ini.
Wisata Warisan Budaya Daerah
Midang
Kayuagung
memiliki khasanah budaya yang kuat dan kental. Suku Kayuagung yang mendiami
wilayah Kota Kayuagung dan sekitarnya selalu menjunjung tinggi adat istiadat
dalam kehidupan sehari-hari berbagai segi kehidupan seperti kelahiran bayi,
pernikahan, sampai kematian diatur dan dituntun oleh adat istiadat budaya
setempat.
Midang
(tradisi arak-arakan yang diiringi musik tradisional seperti tanjidor)
merupakan agenda nasional dalam kunjungan wisata lokal maupun mancanegara yang
dimiliki Kabupaten OKI khususnya. Tradisi yang telah ada pada abad 17 yang lalu
ini berawal dari adanya persyaratan keluarga perempuan dalam menikahkan
putra-putri mereka. Sang putri merupakan keluarga dari keturunan orang
terpandang pada waktu itu.
Midang
dalam perkembangannya sesuai dengan fungsi dan hakekatnya dapat dibagi menjadi
2 macam, yaitu: (1) Midang Begorok yakni arak-arakan yang menjadi bagian
prosesi pernikahan yang bersifat besar-besaran, termasuk juga sunatan, atau pun
persedekahan lainnya; (2) Midang Bebuke (Midang Lebaran Idul Fitri) yang
disebut demikian karena dilakukan untuk memeriahkan hari Raya Idul Fitri
tepatnya pada hari ketiga dan keempat Hari Raya idul Fitri. Midang Bebuke ini
disebut juga Midang Morge Siwe (Sembilan Marga) karena diikuti oleh seluruh
marga yang ada di wilayah karesidenan. Pemerintah Daerah Kabupaten OKI
menyikapi tradisi midang sebagai warisan tradisi budaya leluhur yang sangat
mahal nilai karakteristiknya. Tradisi ini merupakan aset budaya yang sangat
diperhatikan disamping tradisi lainnya di Kabupaten OKI. Kondisi midang sampai
saat ini masih sangat lestari bahkan berkembang menjadi wisata budaya Primadona
di OKI. Midang telah menjadi nilai tradisi budaya unik di negeri pertiwi. Saat
ini midang sudah dijadikan suatu kelengkapan karnafal Budaya di OKI yang
dilaksanakan setiap tahunnya
Mulah
Malam
mulah adalah malam menjelang akan dilaksanakan prosesi akad nikah pada esok
harinya. Secara adat di era 80- an bahwa Malam Mulah itu adalah malam bagi
pihak Keluarga dan Tetangga untuk bermasak-masak guna persiapan Hari
persedekahan. Sedangkan pihak mudamudinya mengadakan malam tetabuhan semacam
Malam Gembira. Pada saat itu pasangan Calon penganten berada di antara
muda-mudi yang hadir, Baik muda-mudi yang datang dari kampung /dusunnya sendiri
maupun dari luar dusun. Secara adat tempo dulu, pasangan Calon Penganten
berkali-Kali naik-turun/keluarmasuk Rumah untuk berganti-ganti pakaian sebanyak
12 Kali. Pakaian yang digunakan Calon Mempelai Perempuan disebut “Pesakin”,
yang dipakai Calon Penganten Laki-laki adalah satu stel dengan kain Calon
Penganten Perempuannya. Perempuan memakai kebaya panjang, sedangkan laki-laki
memakai stelan jas, peci dan memakai handuk. Namun karena adanya pergeseran
nilai, Calon Mempelai Laki-laki terkadang hanya melakukan ganti pakaian
sebanyak 5 atau 3 Kali Saja.
Kunganyan
Adalah
bagian dari prosesi Pernikahan dalam Masyarakat suku Kayuagung. Kungayan adalah
sekelompok bapakbapak dari pihak Calon Mempelai Perempuan yang kesemuanya
adalah Keluarga dan Tetangga Calon penganten Perempuan, yang diundang oleh
pihak Keluarga Calon mempelai laki-laki untuk menyaksikan jalannya ijab qobul.
Rombongan mereka disebut rombongan Suami “ungaian” kegiatannya disebut
Kungayan.
Tarian Daerah
Tari
Penguton Dari sejarahnya, tarian ini lahir
pada tahun 1889 dan pada tahun 1920, oleh keluarga Pangeran Bakri, tarian ini
disempurnakan untuk penyambutan kedatangan Gubernur Jendral Belanda. Sejak itu
tarian ini dijadikan sebagai tari sekapur sirih Kayuagung. Tarian ini ditarikan
oleh Sembilan orang gadiscantik yang dipilih dari Sembilan Marga yang ada di
Kayuagung menggunakan iringan musik perkusi seperti Gamelan, gong, gendang yang
sebagian instrumen tersebut merupakan hadiah dari Kerajaan Majapahit pada abad
ke 15 dibawa oleh utusan Patih Gajah Mada. Konon alat-alat ini masih ada dan
digunakan pada saat menyambut kedangan Presiden Soekarno saat pertama kali
berkunjung ke Bumi Bende Seguguk pada tahun 1959. Pada tahun 1992 tari ini
dibakukan sebagai tari sekapur sirih Kabupaten OKI.
Tari
Gopung Tari Gopung Tari Gopung merupakan
tari-tarian yang digunakan untuk penobatan rajaraja. Tarian ini lahir pada
tahun 1778 di suku Bengkulah Komering. Fungsi tarian ini sampai sekarang masih
eksis digunakan sebagai tari penobatan pangkat dan penyambutan tamu pemerintah
di Kecamatan Tanjung Lubuk.
Pakaian Adat
Nama-Nama
Kain Adat Dan Baju Adat Di Kayuagung
- Angkinan: Baju pengantin/baju kebesaran adat Kayuagung
- Kebaya Kurung Panjang: ciri yang memakai sudah bersuami
- Kebaya Kurung Pendek/bunting: cirri yang memakai masih perawan
- Kebaya Tapuk: Ciri yang memakai sudah bersuami
- Kebaya Tojang: untuk undangan kehormatan/misal si ibu pengantin lakilaki diundang menghadiri hidangan atau kedulangan atau untuk menghadiri pernikahan
- Balah Buluh: Pakaian laki-laki yang dilengkapi dengan Kepudang atau kopiah (kain berada di luar baju)
- Teluk Belango: sejenis baju untuk kaum laki-laki untuk kepentingan adat dengan memakai peci dan kain dibalik baju
- Sarung Pelikat:bentuk kain untuk lakilaki yang terbuat dari jerat jerami yang bermotif kotak-kotak besar ataupun kecil
- Sarung bugis: untuk laki-laki
- Kain Putungan (kain panjang) untuk pasangan kebaya pendek maupun kurung maupun kebaya biasa
- Sarung Sungkitan (songket): pasangan Angkinan juga bisa untuk kebaya biasa
Untuk
kaum wanita, nama-nama pakaian adatnya adalah: Beribit, Pelangi dan Jupri.
Sedangkan motif yang utama adalah: Motif bunga biduk, Motif bunga oteh, Motif
bunga Payi, Motif bunga Inton, Motif bunga Kipas, Motif Kemplang, Motif
Jelujur, dan Motif bunga Kecubung.